<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6959622008897015111?origin\x3dhttps://attractivemind.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>



lie
Yes, if you say you’re happy I’m okay. Your hand I was holding, I’ll now let it go.
The lock that’s bound you here, I’ll release it for you. If it’s what you want, coolly, I’ll try to leave you.
From the beginning you weren’t right for me. But my greed in loving you was just too much.
As a punishment for the me that my greed created. I neither hurt nor hope.

(F.T Island - Lie)


Monday, November 2, 2009, 7:55 AM
Sign

Rating: PG-13, AU
Genre: Drama—anything else?
Disclaimer: Seperti yang sebelumnya; Raiza Sakata dan Reiji Sakata adalah milik saya, Kagami Saito milik Mabel, dan Nathaniel Winterfield milik Mijuh. Sebagian dialog ada yang dari RC di Plurk. Lirik lagu dan judul dari lagu Brown Eyed Girls yang baru 'Sign'. Ceritanya sedikit terinspirasi dari isi MV Sign itu, btw—dimana ceritanya Ga-in dengan tragisnya mati di tank air ;____; Mungkin karena itu pula saya bikin Raiza agak mirip seperti itu. Haha.. Mm.. Kalo boleh saya kasih sedikit saran, baca ini sambil denger lagu-lagunya Goo Hye Sun deh *plakk*



Don’t pretend you don’t know about the day I’ve lost everything

“I really don’t want this to happen between us.”

“I don’t want it too.”

——————

“Aku menginginkan jawaban yang dapat membuatku senang, Raiza-chan.”

“Gomen, Nieru-san...”

——————

“Dokter, bagaimana keadaan kakak saya?”

“Maaf...”

“Kenapa!? Reiji-nii masih bisa sembuh kan!?”

“...nyatanya kakak anda tidak akan sembuh—dan kau telah kehilangannya beberapa menit yang lalu. Sekali lagi, aku minta maaf.”

——————

Bagaimana rasanya kehilangan tiga orang sekaligus?

It’s me, the one who’s crying like a fool

Bahkan sihirpun tidak dapat mengembalikan semuanya. Aku tahu itu.

Disinilah aku, ruangan kamarku bersama Reiji. Hanya termangu memandang air hujan yang tiada hentinya jatuh membasahi bumi. Apa mungkin langit sedang merasakan hal yang sama denganku, ya? Aku jadi ingat, Kagami-kun bilang dia bisa bicara dengan langit. Persepsiku saat itu hingga saat ini; langit sama saja denganku, dengan Kagami-kun, sama-sama manusia. Langit pasti sedang sedih saat ini—dan tahu bahwa aku juga sedang sedih kemudian dia ikut menangis bersamaku. Namun pada nyatanya, air mata yang ia jatuhkan jauh lebih banyak hingga hampir seluruh permukaan bumi ikut basah. Sementara aku? Mungkin air mataku hanya bisa membasahi sebuah lembaran kertas. Masih terbilang baru, sebenarnya. Selembar kertas yang sudah tertulis rapi—oleh Reiji. Lengkap dengan sebercak darah yang terpeta dibagian bawah kertas tersebut.

Aku sudah membaca isi kertas itu sebelumnya. Dari awal hingga akhirnya sebercak darah mengakhiri seluruh kalimatnya yang tertuang diatas kertas tersebut.

Fakta yang mencengangkan, aku sudah membacanya sejak dua minggu yang lalu. Aku baca lagi, dan lagi. Hingga akhirnya seluruh permukaan kertas itu lecek.

I'm in the dark room all day and all night and it's not alright

Disini, di kamar ini; aku, masih merasakan sayatan didalam hatiku yang akhirnya membentuk luka yang paling sakit yang pernah ada. Aku tidak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi padaku. Kehilangan tiga orang yang paling kusayang, sekaligus. Kagami Saito, Nathaniel Winterfield, dan Reiji Sakata—saudara kembarku sendiri. Mungkin menjadi lima, jika kedua orang tuaku akhirnya jadi memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Aku masih ingin disini, terbenam oleh kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.

Why can’t you understand my heart
My heart tightens as time passes

——————

Tolong jangan mencariku lagi, aku mau menyusul Reiji-nii. Semoga aku bisa menemukan Reiji-nii disana ya. Tolong doakan aku.


Sakata Raiza.

——————

My eyes squeezing tears out
I am scared that this is the end

Wanita itu makhluk paling berperasaan di dunia. Jangan pernah sesekali mencoba untuk menyakitinya.

Namun, bagiku; Raiza Sakata, semuanya terlambat.

Aku kini tengah berjalan, diiringi oleh hujan yang terus saja membuat tubuhku basah. Langit masih ikut menangis bersamaku. Aku masih menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam, dan celana yang juga berwarna hitam. Sejak dua minggu lalu aku tidak mengganti bajuku. Sejak dua minggu lalu aku menjauhkan diri dari koneksi dunia luar. Aku tidak peduli seberapa cemas produser radio menginginkanku agar aku dapat kembali bekerja sebagai DJ radio. Aku tidak peduli seberapa khawatirnya teman-teman sekampusku untuk menginginkan aku belajar kembali bersama mereka di sekolah musik. Aku bahkan hampir tidak peduli seberapa aku mencemaskan keluarga besarku untuk sebuah perbuatan yang terbilang egois ini. Aku ingin didekat Reiji-nii. Aku ingin didekat Kagami-kun. Aku ingin didekat Nieru-san.

Do you know how I feel and I’ve confessed countless times?

Aku gila.

Langkah kakiku yang berbalut flat shoes berwarna hitam itu terhenti, setelah aku berjalan tak menentu arahnya—membuat sebagian orang yang melihatku dengan kondisi badan rapuh, mata sembab, dan lain sebagainya; merasa cemas terhadapku—dan aku terhenti di suatu pinggir jembatan. Sepi. Aku memastikan dibawah jembatan ini adalah Tama-gawa. Aku tersenyum. Seperti orang yang sedang sangat senang. Aku tidak peduli cengiran ini akan diartikan sebagai apa oleh orang lain—toh sebenarnya juga tidak ada orang lain lagi kecuali aku.

And the love sign I gave you, did you get my sign?

Aku mulai menaiki pilar-pilar jembatan dengan yakin. Aku pasti akan bertemu dengan Reiji-nii, dan menemani Reiji-nii disana nanti. Kini aku tidak peduli dengan dua orang lain yang aku cintai itu. Mereka pasti sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikanku disisinya. Reiji-nii masih menyayangiku, sama seperti apa yang tertulis dalam lembaran kertas itu, yang masih aku pegang hingga saat ini.

“RAICCHAN!”

Aku kenal suara itu. Aku makin mengembangkan senyumku, dan aku serasa melayang.

Kagami-kun...

Your memories within me and I hold my breath and endure it.

...maaf aku pernah mengecewakanmu...

Can't breath, it's a mayday. Heart hurts, it's a mayday

...Nieru-san...

Time goes and it flies. Can you hear my sign?

...maaf aku tidak pernah menjadi yang terbaik untukmu.

Labels: , , ,