<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6959622008897015111?origin\x3dhttps://attractivemind.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>



lie
Yes, if you say you’re happy I’m okay. Your hand I was holding, I’ll now let it go.
The lock that’s bound you here, I’ll release it for you. If it’s what you want, coolly, I’ll try to leave you.
From the beginning you weren’t right for me. But my greed in loving you was just too much.
As a punishment for the me that my greed created. I neither hurt nor hope.

(F.T Island - Lie)


Thursday, November 12, 2009, 8:21 AM
[Chapter 1] We Were Meant To Be Together

Rating: G
Genre: Drama/Angst (tapi nongolnya juga entaran keknya)
Disclaimer: Veronica Lee milik saya, Axel Lee milik Jopih, Dennis Melikov milik temen. Lirik lagu credit buat Blue Tomorrow-nya Super Junior M =)) Maaf banget baru bikin chapter pertamanya hari ini, lagi iseng juga sih sebenernya karena gak ada kerjaan daritadi nunggu Mabel ngerepp di tretnya KagamiRaiza HUEHEHE *blasted* Ini masih ada lanjutannya, tapi entah kapan dibikin lagi, soalnya rada matok ke FF-nya Jopih juga =))


When it's tomorrow, you will leave my side.
When it's tomorrow, I will wish upon a shooting star alone,
Just like the ending of a movie.

Aku langsung bergerak memeluk kakakku sendiri. Untuk kesekian kalinya, memang, mungkin Axel sudah menghitung berapa kali aku memeluknya untuk suatu alasan yang tidak bisa masuk diakalnya. Namun kali ini aku memberinya pelukan yang luar biasa hangat. Tidak peduli apakah Axel tidak merasakan kehangatan yang aku berikan padanya, meskipun sebenarnya disini akulah yang merasa kedinginan. Aku menggamit kakakku erat, beriringan dengan beberapa kembang api yang telah dilucutkan keatas langit dan membentuk gambar khasnya yang indah. Aku memang tidak melihatnya secara langsung, mungkin Axel yang melihat itu tanpa memperdulikan seberapa lama aku akan terus memeluknya—mungkin sampai aku ketiduranpun mungkin dia tidak akan peduli, haha—yang penting, di awal tahun yang baru ini, sampai seterusnya, aku cuma punya satu keinginan.

Ingin disebelah Axel. Itu saja, tidak muluk-muluk, kok.

Aku jadi ingat aku pernah berbohong tentang tanggal lahirku ketika aku memesan tongkat di Laliv Shopping Center beberapa tahun lalu. Aku bilang tanggal lahirku tanggal 1 Januari—yang berarti hari ini. HAHAHA.

“Oppa,”

“....”

“jangan tinggalin aku, ya?”

“....”

“Selamat tahun baru, Seung Woo-oppa!”

—————————————

Broken promises all over the ground, the yesterday that cannot be pieced together again.
But I still look forward to the appearance of a miracle.

Aku gugup, tanpa Axel disini rasanya terlalu aneh untuk sekedar mengucapkan ‘aku bersedia’ saja. Masih kutatap hijau lime milik Dennis, aku melihat setitik kekhawatiran terpancar dari matanya. Khawatir kalau aku akan meninggalkannya? Tidak melengkapi kalimat itu kemudian berlari keluar gereja, itukah yang mengganggu pikirannya sekarang? Tidak. Seharusnya aku tidak secengeng ini. Aku seharusnya bisa kuat, tegar, tanpa Axel sekalipun. Aku tahu tugas Axel sangat mulia disana, sehingga tidak mungkin aku memaksanya untuk datang kesini secepatnya. Itu sama saja menghancurkan masa depannya nanti—pikirku.

Masih ada bulir air mata mengalir kedua pipiku. Kini aku menangis karena banyak hal—yang paling utama karena dua hal. Axel dan Dennis. Keduanya tidak dapat kutinggalkan, dan aku ingin keduanya tidak meninggalkanku. Terlebih Axel yang secara tidak langsung berjanji padaku empat tahun yang lalu. Dan kini, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya menundukkan kepalaku dan menggumamkan dengan jelas,

“...bersedia.”

Your shadow is drifting further and further away.

Karena kau, oppa, kau yang membuatku bersedia menerima Dennis sebagai belahan jiwaku. Walau sesungguhnya tidak ada yang bisa menggantikan posisimu disini, dihatiku. Mianhae, Dennis.

—————————————

Around me loneliness is spreading.
This vision is being blurred by tears.

Seoul, 12 Desember 2007

Wow, buku tulisku ini sudah lama, ya, tidak terisi oleh tulisan tangan ajaibku ini.. Kira-kira sudah berapa lama, ya? Ahaha.. Aku terlalu malas untuk mengingatnya. Ehehe.. Mianhae, chingu, bukannya aku bermaksud untuk meninggalkanmu, beruntunglah semua tulisanku tidak ada yang rusak sedikitpun. Kau memang hebat, buku tulisku, saranghae <33

Setahun sudah aku menikahi Dennis. Kalau ditanya bagaimana perasaanku.. Hm.. Senang, hampir tidak terhingga sih. Dennis baik, sama seperti apa yang kuharapkan, selalu. Hanya saja keras kepalanya itu yang membuatku bingung setengah mati bagaimana menghadapinya. Sedikit pertengkaran, okelah, bisa terlewati dengan mudah. Selain itu, mulus. Ngomong-ngomong, aku kangen dengan adik Dennis yang sekarang baru lulus perguruan tinggi. Alyssia, sekalinya mengobrol dengan anak itu entah kenapa langsung nyambung kesana kemari x3

Hanya saja, ada yang kurang. Kakakku, Seung Woo. Kau masih ingat kakakku itu, kan? Sudah lama rasanya menghilang dari hadapanku. Padahal, yang kau tahu, dulu aku hampir tidak bisa lepas dari oppa kapanpun dan dimanapun. Sekarang aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi :( Aww, hiks, oppa, dimana kau sekarang? Aku kangen, sumpah. Sebegitu niatkah kau mencari ibu kandungku dan asal usulku? Sebenarnya aku tidak peduli siapa orang tuaku yang asli, apakah aku bukan anak kandung dari appa dan umma, apakah aku anak pungut, aku tidak peduli :| Yang penting kau hadir disini, bersamaku, Dennis, dan calon anakku yang baru berusia enam bulan ini.

Rasanya, sudah dulu aku mengisi lembar buku kesayanganku ini. Cek kehamilan lagi, seperti beberapa bulan lalu. Dennis terlalu overprotektif, dasar, tidak seperti halnya Seung Woo-oppa.

• Veronica Melikova-Lee •

Labels: ,