|
|
Thursday, November 12, 2009, 8:21 AM
[Chapter 1] We Were Meant To Be Together
Rating: G Genre: Drama/Angst (tapi nongolnya juga entaran keknya) Disclaimer: Veronica Lee milik saya, Axel Lee milik Jopih, Dennis Melikov milik temen. Lirik lagu credit buat Blue Tomorrow-nya Super Junior M =)) Maaf banget baru bikin chapter pertamanya hari ini, lagi iseng juga sih sebenernya karena gak ada kerjaan daritadi nunggu Mabel ngerepp di tretnya KagamiRaiza HUEHEHE *blasted* Ini masih ada lanjutannya, tapi entah kapan dibikin lagi, soalnya rada matok ke FF-nya Jopih juga =))
When it's tomorrow, you will leave my side. When it's tomorrow, I will wish upon a shooting star alone, Just like the ending of a movie.
Aku langsung bergerak memeluk kakakku sendiri. Untuk kesekian kalinya, memang, mungkin Axel sudah menghitung berapa kali aku memeluknya untuk suatu alasan yang tidak bisa masuk diakalnya. Namun kali ini aku memberinya pelukan yang luar biasa hangat. Tidak peduli apakah Axel tidak merasakan kehangatan yang aku berikan padanya, meskipun sebenarnya disini akulah yang merasa kedinginan. Aku menggamit kakakku erat, beriringan dengan beberapa kembang api yang telah dilucutkan keatas langit dan membentuk gambar khasnya yang indah. Aku memang tidak melihatnya secara langsung, mungkin Axel yang melihat itu tanpa memperdulikan seberapa lama aku akan terus memeluknya—mungkin sampai aku ketiduranpun mungkin dia tidak akan peduli, haha—yang penting, di awal tahun yang baru ini, sampai seterusnya, aku cuma punya satu keinginan. Ingin disebelah Axel. Itu saja, tidak muluk-muluk, kok. Aku jadi ingat aku pernah berbohong tentang tanggal lahirku ketika aku memesan tongkat di Laliv Shopping Center beberapa tahun lalu. Aku bilang tanggal lahirku tanggal 1 Januari—yang berarti hari ini. HAHAHA. “Oppa,” “....”“jangan tinggalin aku, ya?” “....”“Selamat tahun baru, Seung Woo-oppa!” ————————————— Broken promises all over the ground, the yesterday that cannot be pieced together again. But I still look forward to the appearance of a miracle.
Aku gugup, tanpa Axel disini rasanya terlalu aneh untuk sekedar mengucapkan ‘aku bersedia’ saja. Masih kutatap hijau lime milik Dennis, aku melihat setitik kekhawatiran terpancar dari matanya. Khawatir kalau aku akan meninggalkannya? Tidak melengkapi kalimat itu kemudian berlari keluar gereja, itukah yang mengganggu pikirannya sekarang? Tidak. Seharusnya aku tidak secengeng ini. Aku seharusnya bisa kuat, tegar, tanpa Axel sekalipun. Aku tahu tugas Axel sangat mulia disana, sehingga tidak mungkin aku memaksanya untuk datang kesini secepatnya. Itu sama saja menghancurkan masa depannya nanti—pikirku. Masih ada bulir air mata mengalir kedua pipiku. Kini aku menangis karena banyak hal—yang paling utama karena dua hal. Axel dan Dennis. Keduanya tidak dapat kutinggalkan, dan aku ingin keduanya tidak meninggalkanku. Terlebih Axel yang secara tidak langsung berjanji padaku empat tahun yang lalu. Dan kini, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya menundukkan kepalaku dan menggumamkan dengan jelas, “...bersedia.” Your shadow is drifting further and further away.
Karena kau, oppa, kau yang membuatku bersedia menerima Dennis sebagai belahan jiwaku. Walau sesungguhnya tidak ada yang bisa menggantikan posisimu disini, dihatiku. Mianhae, Dennis. ————————————— Around me loneliness is spreading. This vision is being blurred by tears.
Seoul, 12 Desember 2007Wow, buku tulisku ini sudah lama, ya, tidak terisi oleh tulisan tangan ajaibku ini.. Kira-kira sudah berapa lama, ya? Ahaha.. Aku terlalu malas untuk mengingatnya. Ehehe.. Mianhae, chingu, bukannya aku bermaksud untuk meninggalkanmu, beruntunglah semua tulisanku tidak ada yang rusak sedikitpun. Kau memang hebat, buku tulisku, saranghae <33Setahun sudah aku menikahi Dennis. Kalau ditanya bagaimana perasaanku.. Hm.. Senang, hampir tidak terhingga sih. Dennis baik, sama seperti apa yang kuharapkan, selalu. Hanya saja keras kepalanya itu yang membuatku bingung setengah mati bagaimana menghadapinya. Sedikit pertengkaran, okelah, bisa terlewati dengan mudah. Selain itu, mulus. Ngomong-ngomong, aku kangen dengan adik Dennis yang sekarang baru lulus perguruan tinggi. Alyssia, sekalinya mengobrol dengan anak itu entah kenapa langsung nyambung kesana kemari x3Hanya saja, ada yang kurang. Kakakku, Seung Woo. Kau masih ingat kakakku itu, kan? Sudah lama rasanya menghilang dari hadapanku. Padahal, yang kau tahu, dulu aku hampir tidak bisa lepas dari oppa kapanpun dan dimanapun. Sekarang aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi :( Aww, hiks, oppa, dimana kau sekarang? Aku kangen, sumpah. Sebegitu niatkah kau mencari ibu kandungku dan asal usulku? Sebenarnya aku tidak peduli siapa orang tuaku yang asli, apakah aku bukan anak kandung dari appa dan umma, apakah aku anak pungut, aku tidak peduli :| Yang penting kau hadir disini, bersamaku, Dennis, dan calon anakku yang baru berusia enam bulan ini.Rasanya, sudah dulu aku mengisi lembar buku kesayanganku ini. Cek kehamilan lagi, seperti beberapa bulan lalu. Dennis terlalu overprotektif, dasar, tidak seperti halnya Seung Woo-oppa.• Veronica Melikova-Lee •Labels: Axel/Veronica, RPF: IndoDurmstrang
|
|
|
Tuesday, November 3, 2009, 1:36 AM
[Prologue] We Were Meant To Be Together
Rating: G Genre: Drama/Angst (tapi nongolnya juga entaran keknya) Disclaimer: Akhirnya bisa juga nge-FF tanpa pake character Raiza lagi *dicaplok* Well, kali ini saya memakai Veronica Lee (or Lee Yeon Ni), character saya dari IndoDurmstrang—forum milik Rara. Trus Carenne Lorenzo punya saya juga, Dennis Melikov minjem punya temen saya ^^, Axel Lee (or Lee Seung Gi Woo) punya Jopih. Sori baru prolog doang ini, soalnya saya stuck banget, mana ini sebenernya diketik pake hape pas lagi di sekolah *curcol* =)) Btw, ini nyambung sama FF-nya Jopih yang 'Aku Ingin'. Mungkin judulnya juga bakal nyambung kalo judulnya pake Bahasa Indonesia =)) *ditendang*
"Aku..." Seung Woo- oppa, mungkinkah kau datang kesini dalam waktu sekejap mata? Aku kangen oppa, aku kangen setiap perkataanmu yang terdengar menyebalkan itu, aku kangen helaan nafasmu setiap kali aku mencubit pipimu atau mengacak rambut atau apapun yang biasa kulakukan agar aku merasa lebih dekat denganmu. Oke, mungkin tidak sekarang—saat kau tengah sibuk mencari identitasku sementara aku disini tinggal melengkapi kalimat sekali seumur hidupku ini. Bola mataku mungkin memang terpusat pada bola mata dihadapanku—milik Dennis Melikov, orang yang kini akan kunikahi, namun tidakkah oppa tahu kalau aku memikirkanmu dan membayangkanmu kini dihadapanku? Aku yang bergaun putih, sementara hatiku abu-abu karena kau, oppa, tidakkah kau tahu? "........" tanpa terasa bulir kristal bertajuk air mata itu kembali mengalir, memang tidak sampai melunturkan maskaraku, namun tetap saja membuat penampilanku berantakan seketika didepan Dennis. Aku enggan mengalihkan perhatianku dari mata hijaunya yang terang nan cemerlang, meskipun itu hanya membuat air mataku bisa mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Sang pendeta heran melihatku, dan barangkali menganggap kalau aku terlalu canggung dan cengeng untuk sekedar mengatakan kalau aku bersedia menemani Dennis sehidup semati. Namun bukan itu yang kurasakan. Aku mencintai Dennis, namun cintaku kepada kakakku sendiri sepertinya jauh lebih besar daripada itu. Dan iya, oppa, aku juga sedang merasa takut. Akan hal yang sama, karena kita bukan saudara kembar. "Veronica-noona? Kau kenapa?""A—aku..." ————————————— Malam tahun baru, 31 Desember 2001. 23:57 waktu setempat. Eulwangi Beach, Incheon, Korea Selatan. "Seung Woo- oppa," "Hm?""Kucubit pipimu lagi ya! Hihihi..." Meskipun umurku kini sudah menginjak kepala dua—sama seperti Axel, sifat manjaku masih saja melekat pada diriku. Kau tentu tahu tentang itu, oppa, karena kau memang saudara kembarku yang paling kusayang. Permukaan telapak tanganku yang terlihat putih pucat seperti warna kulit Axel kini mulai menyentuh pipinya. Aku senang disaat-saat seperti ini aku bisa bersama Axel. Tidak seperti biasanya memang. Kini aku mulai terbiasa untuk tidur larut—apa mungkin karena efek saat mendekati ujian akhir sewaktu aku dan Axel bersekolah bersama di Durmstrang, belajar sampai larut dan tertidur hanya sebentar, dan mulai terbiasa sampai sekarang? Aku hanya bisa terkikik pelan, untuk kebiasaanku tidur larut dan usahaku untuk membuat Axel tersenyum. Ngomong-ngomong, bagaimana caraku datang kesini bersama Axel sementara tempat tinggal kami masih di Rusia? Portkey! Benda sial itu lagi yang aku dapatkan dari seorang senior—anak Embro juga, namanya Carenne Lorenzo. Aku kaget saja mengetahui kalau dia keturunan anak mafia. Ah sudahlah, itu tak penting. Yang penting sekarang aku sudah ada di tanah kelahiranku untuk menyambut tahun baru! Ahaha... Tapi aku masih terbawa mual entah kenapa. Sudahlah... " Oppa, oppa, kalau suatu hari kita berpisah bagaimana? Kau akan merindukanku tidak?" "Mungkin."CTARR! CTARR! Labels: Axel/Veronica, RPF: IndoDurmstrang
|
|
|
Monday, November 2, 2009, 7:55 AM
Sign
Rating: PG-13, AU Genre: Drama—anything else? Disclaimer: Seperti yang sebelumnya; Raiza Sakata dan Reiji Sakata adalah milik saya, Kagami Saito milik Mabel, dan Nathaniel Winterfield milik Mijuh. Sebagian dialog ada yang dari RC di Plurk. Lirik lagu dan judul dari lagu Brown Eyed Girls yang baru 'Sign'. Ceritanya sedikit terinspirasi dari isi MV Sign itu, btw—dimana ceritanya Ga-in dengan tragisnya mati di tank air ;____; Mungkin karena itu pula saya bikin Raiza agak mirip seperti itu. Haha.. Mm.. Kalo boleh saya kasih sedikit saran, baca ini sambil denger lagu-lagunya Goo Hye Sun deh *plakk*
Don’t pretend you don’t know about the day I’ve lost everything
“I really don’t want this to happen between us.” “I don’t want it too.”—————— “Aku menginginkan jawaban yang dapat membuatku senang, Raiza-chan.”“Gomen, Nieru-san...” —————— “Dokter, bagaimana keadaan kakak saya?” “Maaf...”“Kenapa!? Reiji-nii masih bisa sembuh kan!?” “...nyatanya kakak anda tidak akan sembuh—dan kau telah kehilangannya beberapa menit yang lalu. Sekali lagi, aku minta maaf.”—————— Bagaimana rasanya kehilangan tiga orang sekaligus? It’s me, the one who’s crying like a fool
Bahkan sihirpun tidak dapat mengembalikan semuanya. Aku tahu itu. Disinilah aku, ruangan kamarku bersama Reiji. Hanya termangu memandang air hujan yang tiada hentinya jatuh membasahi bumi. Apa mungkin langit sedang merasakan hal yang sama denganku, ya? Aku jadi ingat, Kagami-kun bilang dia bisa bicara dengan langit. Persepsiku saat itu hingga saat ini; langit sama saja denganku, dengan Kagami-kun, sama-sama manusia. Langit pasti sedang sedih saat ini—dan tahu bahwa aku juga sedang sedih kemudian dia ikut menangis bersamaku. Namun pada nyatanya, air mata yang ia jatuhkan jauh lebih banyak hingga hampir seluruh permukaan bumi ikut basah. Sementara aku? Mungkin air mataku hanya bisa membasahi sebuah lembaran kertas. Masih terbilang baru, sebenarnya. Selembar kertas yang sudah tertulis rapi—oleh Reiji. Lengkap dengan sebercak darah yang terpeta dibagian bawah kertas tersebut. Aku sudah membaca isi kertas itu sebelumnya. Dari awal hingga akhirnya sebercak darah mengakhiri seluruh kalimatnya yang tertuang diatas kertas tersebut. Fakta yang mencengangkan, aku sudah membacanya sejak dua minggu yang lalu. Aku baca lagi, dan lagi. Hingga akhirnya seluruh permukaan kertas itu lecek. I'm in the dark room all day and all night and it's not alright
Disini, di kamar ini; aku, masih merasakan sayatan didalam hatiku yang akhirnya membentuk luka yang paling sakit yang pernah ada. Aku tidak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi padaku. Kehilangan tiga orang yang paling kusayang, sekaligus. Kagami Saito, Nathaniel Winterfield, dan Reiji Sakata—saudara kembarku sendiri. Mungkin menjadi lima, jika kedua orang tuaku akhirnya jadi memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Aku masih ingin disini, terbenam oleh kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Why can’t you understand my heart My heart tightens as time passes
—————— Tolong jangan mencariku lagi, aku mau menyusul Reiji-nii. Semoga aku bisa menemukan Reiji-nii disana ya. Tolong doakan aku.Sakata Raiza.
—————— My eyes squeezing tears out I am scared that this is the end
Wanita itu makhluk paling berperasaan di dunia. Jangan pernah sesekali mencoba untuk menyakitinya. Namun, bagiku; Raiza Sakata, semuanya terlambat. Aku kini tengah berjalan, diiringi oleh hujan yang terus saja membuat tubuhku basah. Langit masih ikut menangis bersamaku. Aku masih menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam, dan celana yang juga berwarna hitam. Sejak dua minggu lalu aku tidak mengganti bajuku. Sejak dua minggu lalu aku menjauhkan diri dari koneksi dunia luar. Aku tidak peduli seberapa cemas produser radio menginginkanku agar aku dapat kembali bekerja sebagai DJ radio. Aku tidak peduli seberapa khawatirnya teman-teman sekampusku untuk menginginkan aku belajar kembali bersama mereka di sekolah musik. Aku bahkan hampir tidak peduli seberapa aku mencemaskan keluarga besarku untuk sebuah perbuatan yang terbilang egois ini. Aku ingin didekat Reiji-nii. Aku ingin didekat Kagami-kun. Aku ingin didekat Nieru-san. Do you know how I feel and I’ve confessed countless times?
Aku gila. Langkah kakiku yang berbalut flat shoes berwarna hitam itu terhenti, setelah aku berjalan tak menentu arahnya—membuat sebagian orang yang melihatku dengan kondisi badan rapuh, mata sembab, dan lain sebagainya; merasa cemas terhadapku—dan aku terhenti di suatu pinggir jembatan. Sepi. Aku memastikan dibawah jembatan ini adalah Tama-gawa. Aku tersenyum. Seperti orang yang sedang sangat senang. Aku tidak peduli cengiran ini akan diartikan sebagai apa oleh orang lain—toh sebenarnya juga tidak ada orang lain lagi kecuali aku. And the love sign I gave you, did you get my sign?
Aku mulai menaiki pilar-pilar jembatan dengan yakin. Aku pasti akan bertemu dengan Reiji-nii, dan menemani Reiji-nii disana nanti. Kini aku tidak peduli dengan dua orang lain yang aku cintai itu. Mereka pasti sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikanku disisinya. Reiji-nii masih menyayangiku, sama seperti apa yang tertulis dalam lembaran kertas itu, yang masih aku pegang hingga saat ini. “RAICCHAN!”Aku kenal suara itu. Aku makin mengembangkan senyumku, dan aku serasa melayang. Kagami-kun... Your memories within me and I hold my breath and endure it.
...maaf aku pernah mengecewakanmu... Can't breath, it's a mayday. Heart hurts, it's a mayday
...Nieru-san... Time goes and it flies. Can you hear my sign?
...maaf aku tidak pernah menjadi yang terbaik untukmu. Labels: Kagami/Raiza, Nathaniel/Raiza, Reiji/Raiza, RPF: Ryokubita
|
|
|
Saturday, October 31, 2009, 11:51 PM
The Way U Are
…karena aku yang paling tahu kenyataannya. Why did I end up falling in love with you? I thought that no matter how much time went by You would always be here
Memiliki dua orang itu terkadang menyakitkan. Seharusnya aku tahu itu sejak lama. Tapi kenapa baru sekarang aku bisa sedewasa ini? Bukan disaat dimana aku mulai menyukai Nieru-san sementara disisiku sudah ada Kagami-kun—kenapa? Rasa-rasanya aku ingin menjedukkan kepalaku ke batu, atau dinding yang dipenuhi paku, membiarkan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhku. Reiji-niisan mungkin akan heran dengan sifatku ini, memang, karena ini bukan diriku yang sebenarnya. Sisi gelap. Semua orang punya itu, ‘kan? “What makes you want to have me? Even though I'm not the best for you? Even though I've made you destroyed?” But you choose a different path Sebuah pertanyaan retoris, untuk kesekian kalinya meluncur dari mulutku begitu saja. Katakan bahwa aku terlalu keras kepala untuk meninggalkannya, karena aku tidak mau Kagami-kun sedih. Sama sedihnya ketika ia menceritakan masa lalunya yang kelam—memang dia tidak menunjukkan itu namun aku tahu di lubuk hatinya pasti ada luka terdalam, perasaan hancur, you name it. Mengecewakan memang, karena aku memang bukan yang terbaik untuk Kagami-kun. Yang dia butuhkan adalah orang yang selalu menjaga perasaannya, agar tidak melenceng jauh dan membuatnya jatuh. “Four words; because I love you.”Why couldn’t I tell you a single thing?
“You destroyed me, but just hearing your voice makes me alright.”Every day and every night, my feelings grew stronger Even though I knew all the words I wanted to say to you You’ll never hear them anymore
…andai aku bisa mengatakan hal yang sama, Kagami-kun. Aku hanya bisa memberikan tatapan nanar, seolah aku telah mengucurkan air mata sedari tadi tanpa henti. Seluruh tubuhku melemah, dan aku tidak sedang sakit, ngomong-ngomong. Untuk sebuah pengakuan kesalahan terbesar dalam urusan cinta, aku harus mengerahkan semua tenagaku—hebat, eh? Tidak mudah untuk meninggalkan seseorang yang sebenarnya masih kau sayangi hanya karena ingin menjaga perasaannya saja. Aku pun membiarkan surai coklatku tergerai, berkibar karena angin yang bertiup. Juga membiarkan kedua manik amberku dikelilingi oleh warna kemerahan yang mendominasi. “So tell me, how much you love me?” We can’t go back...
“’How much’ is not important, my dear.”Back then...
“For me, that’s important.” We can’t go back...
“For me, it's not. but I can't tell you how much I love you because I...”Back then...
“...you don’t love me, do you?” Pada akhirnya, keegoisan memenangkan segalanya. Aku hampir tak mampu berbicara apapun lagi. Bukan karena tenggorokanku mendadak kering ataupun kulit bibirku mengelupas. Karena aku sudah menanyakan hal yang paling menyesakkan pada Kagami-kun. Menyesakkan untukku juga, tentunya. Aku pun tak peduli meskipun perdebatan ini pada akhirnya berbuntut panjang atau apa. Tetapi yang jelas, yang aku inginkan saat ini adalah rasa tenang Kagami-kun. Bukan perasaan terikat karena harus mencintaiku sepenuhnya. Meskipun aku yang terikat terlebih dahulu—Reiji-niisan juga mengetahui ini, kontak batin antar saudara kembar—dan kemudian mengikat pada yang lainnya juga. Jujur, aku memang tidak menginginkan hal ini terjadi begitu saja. Begitu keras kepalanya aku. Still... Even if you’ve left my side
“...I really don't want this to happen between us.” I’ll just be wishing for your eternal happiness
Aku kangen Kagami Saito yang dulu. Aku kangen Kagami Saito berwajah polos, ekspresi yang kini makin menyesakkan hatiku juga. Aku kangen Kagami Saito yang tidak terikat oleh satu perasaan... Yang dinamakan cinta. “I don’t want it too.”No matter how lonely it makes me feel Even if it hurts...
...sayonara. ———— Rating: G (General) Genre: Romance/Drama Disclaimer: Raiza Sakata & Reiji Sakata milik saya, Kagami Saito milik Mabel, Nathaniel Winterfield milik Mijuh. Percakapan dari rolechat di Plurk (roflmao). Lirik lagu Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou milik Dong Bang Shin Ki. Judul lagu The Way You Are milik Dong Bang Shin Ki juga buat judul fanficnya. Agak gak nyambung emang, huehehehe. Tapi seriusan loh, waktu nulis fanfic ini sekalian dengerin lagu Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou itu trus liat MVnya yang—anjir, ini dramanya Kagami sama Raiza banget (roflmao). Ahu.. Cuma pengen makasih sama Tuhan yang udah ngasih kesempatan biar bikin fanfic kek gini, walaupun jadinya geje parah. Trus buat Mabel juga yang tadi nyemangatin di Plurk—beruntunglah dikau, nak, untung sama saya belom di-close (roflmao).Labels: Kagami/Raiza, RPF: Ryokubita
|

|
Profile
pro·file - Pronunciation[proh-fahyl]
a history, description, or analysis of yourself or something.
Your short or long (or short and long) profile goes here. Description and profile may be as long as you would like.
Here you can list out your names, where you are from, what are you favourites, your contacts.
It is all about you. Make it as long as you can.
|
|
|
Thursday, November 12, 2009, 8:21 AM
[Chapter 1] We Were Meant To Be Together
Rating: G Genre: Drama/Angst (tapi nongolnya juga entaran keknya) Disclaimer: Veronica Lee milik saya, Axel Lee milik Jopih, Dennis Melikov milik temen. Lirik lagu credit buat Blue Tomorrow-nya Super Junior M =)) Maaf banget baru bikin chapter pertamanya hari ini, lagi iseng juga sih sebenernya karena gak ada kerjaan daritadi nunggu Mabel ngerepp di tretnya KagamiRaiza HUEHEHE *blasted* Ini masih ada lanjutannya, tapi entah kapan dibikin lagi, soalnya rada matok ke FF-nya Jopih juga =))
When it's tomorrow, you will leave my side. When it's tomorrow, I will wish upon a shooting star alone, Just like the ending of a movie.
Aku langsung bergerak memeluk kakakku sendiri. Untuk kesekian kalinya, memang, mungkin Axel sudah menghitung berapa kali aku memeluknya untuk suatu alasan yang tidak bisa masuk diakalnya. Namun kali ini aku memberinya pelukan yang luar biasa hangat. Tidak peduli apakah Axel tidak merasakan kehangatan yang aku berikan padanya, meskipun sebenarnya disini akulah yang merasa kedinginan. Aku menggamit kakakku erat, beriringan dengan beberapa kembang api yang telah dilucutkan keatas langit dan membentuk gambar khasnya yang indah. Aku memang tidak melihatnya secara langsung, mungkin Axel yang melihat itu tanpa memperdulikan seberapa lama aku akan terus memeluknya—mungkin sampai aku ketiduranpun mungkin dia tidak akan peduli, haha—yang penting, di awal tahun yang baru ini, sampai seterusnya, aku cuma punya satu keinginan. Ingin disebelah Axel. Itu saja, tidak muluk-muluk, kok. Aku jadi ingat aku pernah berbohong tentang tanggal lahirku ketika aku memesan tongkat di Laliv Shopping Center beberapa tahun lalu. Aku bilang tanggal lahirku tanggal 1 Januari—yang berarti hari ini. HAHAHA. “Oppa,” “....”“jangan tinggalin aku, ya?” “....”“Selamat tahun baru, Seung Woo-oppa!” ————————————— Broken promises all over the ground, the yesterday that cannot be pieced together again. But I still look forward to the appearance of a miracle.
Aku gugup, tanpa Axel disini rasanya terlalu aneh untuk sekedar mengucapkan ‘aku bersedia’ saja. Masih kutatap hijau lime milik Dennis, aku melihat setitik kekhawatiran terpancar dari matanya. Khawatir kalau aku akan meninggalkannya? Tidak melengkapi kalimat itu kemudian berlari keluar gereja, itukah yang mengganggu pikirannya sekarang? Tidak. Seharusnya aku tidak secengeng ini. Aku seharusnya bisa kuat, tegar, tanpa Axel sekalipun. Aku tahu tugas Axel sangat mulia disana, sehingga tidak mungkin aku memaksanya untuk datang kesini secepatnya. Itu sama saja menghancurkan masa depannya nanti—pikirku. Masih ada bulir air mata mengalir kedua pipiku. Kini aku menangis karena banyak hal—yang paling utama karena dua hal. Axel dan Dennis. Keduanya tidak dapat kutinggalkan, dan aku ingin keduanya tidak meninggalkanku. Terlebih Axel yang secara tidak langsung berjanji padaku empat tahun yang lalu. Dan kini, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya menundukkan kepalaku dan menggumamkan dengan jelas, “...bersedia.” Your shadow is drifting further and further away.
Karena kau, oppa, kau yang membuatku bersedia menerima Dennis sebagai belahan jiwaku. Walau sesungguhnya tidak ada yang bisa menggantikan posisimu disini, dihatiku. Mianhae, Dennis. ————————————— Around me loneliness is spreading. This vision is being blurred by tears.
Seoul, 12 Desember 2007Wow, buku tulisku ini sudah lama, ya, tidak terisi oleh tulisan tangan ajaibku ini.. Kira-kira sudah berapa lama, ya? Ahaha.. Aku terlalu malas untuk mengingatnya. Ehehe.. Mianhae, chingu, bukannya aku bermaksud untuk meninggalkanmu, beruntunglah semua tulisanku tidak ada yang rusak sedikitpun. Kau memang hebat, buku tulisku, saranghae <33Setahun sudah aku menikahi Dennis. Kalau ditanya bagaimana perasaanku.. Hm.. Senang, hampir tidak terhingga sih. Dennis baik, sama seperti apa yang kuharapkan, selalu. Hanya saja keras kepalanya itu yang membuatku bingung setengah mati bagaimana menghadapinya. Sedikit pertengkaran, okelah, bisa terlewati dengan mudah. Selain itu, mulus. Ngomong-ngomong, aku kangen dengan adik Dennis yang sekarang baru lulus perguruan tinggi. Alyssia, sekalinya mengobrol dengan anak itu entah kenapa langsung nyambung kesana kemari x3Hanya saja, ada yang kurang. Kakakku, Seung Woo. Kau masih ingat kakakku itu, kan? Sudah lama rasanya menghilang dari hadapanku. Padahal, yang kau tahu, dulu aku hampir tidak bisa lepas dari oppa kapanpun dan dimanapun. Sekarang aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi :( Aww, hiks, oppa, dimana kau sekarang? Aku kangen, sumpah. Sebegitu niatkah kau mencari ibu kandungku dan asal usulku? Sebenarnya aku tidak peduli siapa orang tuaku yang asli, apakah aku bukan anak kandung dari appa dan umma, apakah aku anak pungut, aku tidak peduli :| Yang penting kau hadir disini, bersamaku, Dennis, dan calon anakku yang baru berusia enam bulan ini.Rasanya, sudah dulu aku mengisi lembar buku kesayanganku ini. Cek kehamilan lagi, seperti beberapa bulan lalu. Dennis terlalu overprotektif, dasar, tidak seperti halnya Seung Woo-oppa.• Veronica Melikova-Lee •Labels: Axel/Veronica, RPF: IndoDurmstrang
|
|
|
Tuesday, November 3, 2009, 1:36 AM
[Prologue] We Were Meant To Be Together
Rating: G Genre: Drama/Angst (tapi nongolnya juga entaran keknya) Disclaimer: Akhirnya bisa juga nge-FF tanpa pake character Raiza lagi *dicaplok* Well, kali ini saya memakai Veronica Lee (or Lee Yeon Ni), character saya dari IndoDurmstrang—forum milik Rara. Trus Carenne Lorenzo punya saya juga, Dennis Melikov minjem punya temen saya ^^, Axel Lee (or Lee Seung Gi Woo) punya Jopih. Sori baru prolog doang ini, soalnya saya stuck banget, mana ini sebenernya diketik pake hape pas lagi di sekolah *curcol* =)) Btw, ini nyambung sama FF-nya Jopih yang 'Aku Ingin'. Mungkin judulnya juga bakal nyambung kalo judulnya pake Bahasa Indonesia =)) *ditendang*
"Aku..." Seung Woo- oppa, mungkinkah kau datang kesini dalam waktu sekejap mata? Aku kangen oppa, aku kangen setiap perkataanmu yang terdengar menyebalkan itu, aku kangen helaan nafasmu setiap kali aku mencubit pipimu atau mengacak rambut atau apapun yang biasa kulakukan agar aku merasa lebih dekat denganmu. Oke, mungkin tidak sekarang—saat kau tengah sibuk mencari identitasku sementara aku disini tinggal melengkapi kalimat sekali seumur hidupku ini. Bola mataku mungkin memang terpusat pada bola mata dihadapanku—milik Dennis Melikov, orang yang kini akan kunikahi, namun tidakkah oppa tahu kalau aku memikirkanmu dan membayangkanmu kini dihadapanku? Aku yang bergaun putih, sementara hatiku abu-abu karena kau, oppa, tidakkah kau tahu? "........" tanpa terasa bulir kristal bertajuk air mata itu kembali mengalir, memang tidak sampai melunturkan maskaraku, namun tetap saja membuat penampilanku berantakan seketika didepan Dennis. Aku enggan mengalihkan perhatianku dari mata hijaunya yang terang nan cemerlang, meskipun itu hanya membuat air mataku bisa mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Sang pendeta heran melihatku, dan barangkali menganggap kalau aku terlalu canggung dan cengeng untuk sekedar mengatakan kalau aku bersedia menemani Dennis sehidup semati. Namun bukan itu yang kurasakan. Aku mencintai Dennis, namun cintaku kepada kakakku sendiri sepertinya jauh lebih besar daripada itu. Dan iya, oppa, aku juga sedang merasa takut. Akan hal yang sama, karena kita bukan saudara kembar. "Veronica-noona? Kau kenapa?""A—aku..." ————————————— Malam tahun baru, 31 Desember 2001. 23:57 waktu setempat. Eulwangi Beach, Incheon, Korea Selatan. "Seung Woo- oppa," "Hm?""Kucubit pipimu lagi ya! Hihihi..." Meskipun umurku kini sudah menginjak kepala dua—sama seperti Axel, sifat manjaku masih saja melekat pada diriku. Kau tentu tahu tentang itu, oppa, karena kau memang saudara kembarku yang paling kusayang. Permukaan telapak tanganku yang terlihat putih pucat seperti warna kulit Axel kini mulai menyentuh pipinya. Aku senang disaat-saat seperti ini aku bisa bersama Axel. Tidak seperti biasanya memang. Kini aku mulai terbiasa untuk tidur larut—apa mungkin karena efek saat mendekati ujian akhir sewaktu aku dan Axel bersekolah bersama di Durmstrang, belajar sampai larut dan tertidur hanya sebentar, dan mulai terbiasa sampai sekarang? Aku hanya bisa terkikik pelan, untuk kebiasaanku tidur larut dan usahaku untuk membuat Axel tersenyum. Ngomong-ngomong, bagaimana caraku datang kesini bersama Axel sementara tempat tinggal kami masih di Rusia? Portkey! Benda sial itu lagi yang aku dapatkan dari seorang senior—anak Embro juga, namanya Carenne Lorenzo. Aku kaget saja mengetahui kalau dia keturunan anak mafia. Ah sudahlah, itu tak penting. Yang penting sekarang aku sudah ada di tanah kelahiranku untuk menyambut tahun baru! Ahaha... Tapi aku masih terbawa mual entah kenapa. Sudahlah... " Oppa, oppa, kalau suatu hari kita berpisah bagaimana? Kau akan merindukanku tidak?" "Mungkin."CTARR! CTARR! Labels: Axel/Veronica, RPF: IndoDurmstrang
|
|
|
Monday, November 2, 2009, 7:55 AM
Sign
Rating: PG-13, AU Genre: Drama—anything else? Disclaimer: Seperti yang sebelumnya; Raiza Sakata dan Reiji Sakata adalah milik saya, Kagami Saito milik Mabel, dan Nathaniel Winterfield milik Mijuh. Sebagian dialog ada yang dari RC di Plurk. Lirik lagu dan judul dari lagu Brown Eyed Girls yang baru 'Sign'. Ceritanya sedikit terinspirasi dari isi MV Sign itu, btw—dimana ceritanya Ga-in dengan tragisnya mati di tank air ;____; Mungkin karena itu pula saya bikin Raiza agak mirip seperti itu. Haha.. Mm.. Kalo boleh saya kasih sedikit saran, baca ini sambil denger lagu-lagunya Goo Hye Sun deh *plakk*
Don’t pretend you don’t know about the day I’ve lost everything
“I really don’t want this to happen between us.” “I don’t want it too.”—————— “Aku menginginkan jawaban yang dapat membuatku senang, Raiza-chan.”“Gomen, Nieru-san...” —————— “Dokter, bagaimana keadaan kakak saya?” “Maaf...”“Kenapa!? Reiji-nii masih bisa sembuh kan!?” “...nyatanya kakak anda tidak akan sembuh—dan kau telah kehilangannya beberapa menit yang lalu. Sekali lagi, aku minta maaf.”—————— Bagaimana rasanya kehilangan tiga orang sekaligus? It’s me, the one who’s crying like a fool
Bahkan sihirpun tidak dapat mengembalikan semuanya. Aku tahu itu. Disinilah aku, ruangan kamarku bersama Reiji. Hanya termangu memandang air hujan yang tiada hentinya jatuh membasahi bumi. Apa mungkin langit sedang merasakan hal yang sama denganku, ya? Aku jadi ingat, Kagami-kun bilang dia bisa bicara dengan langit. Persepsiku saat itu hingga saat ini; langit sama saja denganku, dengan Kagami-kun, sama-sama manusia. Langit pasti sedang sedih saat ini—dan tahu bahwa aku juga sedang sedih kemudian dia ikut menangis bersamaku. Namun pada nyatanya, air mata yang ia jatuhkan jauh lebih banyak hingga hampir seluruh permukaan bumi ikut basah. Sementara aku? Mungkin air mataku hanya bisa membasahi sebuah lembaran kertas. Masih terbilang baru, sebenarnya. Selembar kertas yang sudah tertulis rapi—oleh Reiji. Lengkap dengan sebercak darah yang terpeta dibagian bawah kertas tersebut. Aku sudah membaca isi kertas itu sebelumnya. Dari awal hingga akhirnya sebercak darah mengakhiri seluruh kalimatnya yang tertuang diatas kertas tersebut. Fakta yang mencengangkan, aku sudah membacanya sejak dua minggu yang lalu. Aku baca lagi, dan lagi. Hingga akhirnya seluruh permukaan kertas itu lecek. I'm in the dark room all day and all night and it's not alright
Disini, di kamar ini; aku, masih merasakan sayatan didalam hatiku yang akhirnya membentuk luka yang paling sakit yang pernah ada. Aku tidak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi padaku. Kehilangan tiga orang yang paling kusayang, sekaligus. Kagami Saito, Nathaniel Winterfield, dan Reiji Sakata—saudara kembarku sendiri. Mungkin menjadi lima, jika kedua orang tuaku akhirnya jadi memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Aku masih ingin disini, terbenam oleh kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Why can’t you understand my heart My heart tightens as time passes
—————— Tolong jangan mencariku lagi, aku mau menyusul Reiji-nii. Semoga aku bisa menemukan Reiji-nii disana ya. Tolong doakan aku.Sakata Raiza.
—————— My eyes squeezing tears out I am scared that this is the end
Wanita itu makhluk paling berperasaan di dunia. Jangan pernah sesekali mencoba untuk menyakitinya. Namun, bagiku; Raiza Sakata, semuanya terlambat. Aku kini tengah berjalan, diiringi oleh hujan yang terus saja membuat tubuhku basah. Langit masih ikut menangis bersamaku. Aku masih menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam, dan celana yang juga berwarna hitam. Sejak dua minggu lalu aku tidak mengganti bajuku. Sejak dua minggu lalu aku menjauhkan diri dari koneksi dunia luar. Aku tidak peduli seberapa cemas produser radio menginginkanku agar aku dapat kembali bekerja sebagai DJ radio. Aku tidak peduli seberapa khawatirnya teman-teman sekampusku untuk menginginkan aku belajar kembali bersama mereka di sekolah musik. Aku bahkan hampir tidak peduli seberapa aku mencemaskan keluarga besarku untuk sebuah perbuatan yang terbilang egois ini. Aku ingin didekat Reiji-nii. Aku ingin didekat Kagami-kun. Aku ingin didekat Nieru-san. Do you know how I feel and I’ve confessed countless times?
Aku gila. Langkah kakiku yang berbalut flat shoes berwarna hitam itu terhenti, setelah aku berjalan tak menentu arahnya—membuat sebagian orang yang melihatku dengan kondisi badan rapuh, mata sembab, dan lain sebagainya; merasa cemas terhadapku—dan aku terhenti di suatu pinggir jembatan. Sepi. Aku memastikan dibawah jembatan ini adalah Tama-gawa. Aku tersenyum. Seperti orang yang sedang sangat senang. Aku tidak peduli cengiran ini akan diartikan sebagai apa oleh orang lain—toh sebenarnya juga tidak ada orang lain lagi kecuali aku. And the love sign I gave you, did you get my sign?
Aku mulai menaiki pilar-pilar jembatan dengan yakin. Aku pasti akan bertemu dengan Reiji-nii, dan menemani Reiji-nii disana nanti. Kini aku tidak peduli dengan dua orang lain yang aku cintai itu. Mereka pasti sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikanku disisinya. Reiji-nii masih menyayangiku, sama seperti apa yang tertulis dalam lembaran kertas itu, yang masih aku pegang hingga saat ini. “RAICCHAN!”Aku kenal suara itu. Aku makin mengembangkan senyumku, dan aku serasa melayang. Kagami-kun... Your memories within me and I hold my breath and endure it.
...maaf aku pernah mengecewakanmu... Can't breath, it's a mayday. Heart hurts, it's a mayday
...Nieru-san... Time goes and it flies. Can you hear my sign?
...maaf aku tidak pernah menjadi yang terbaik untukmu. Labels: Kagami/Raiza, Nathaniel/Raiza, Reiji/Raiza, RPF: Ryokubita
|
|
|
Saturday, October 31, 2009, 11:51 PM
The Way U Are
…karena aku yang paling tahu kenyataannya. Why did I end up falling in love with you? I thought that no matter how much time went by You would always be here
Memiliki dua orang itu terkadang menyakitkan. Seharusnya aku tahu itu sejak lama. Tapi kenapa baru sekarang aku bisa sedewasa ini? Bukan disaat dimana aku mulai menyukai Nieru-san sementara disisiku sudah ada Kagami-kun—kenapa? Rasa-rasanya aku ingin menjedukkan kepalaku ke batu, atau dinding yang dipenuhi paku, membiarkan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhku. Reiji-niisan mungkin akan heran dengan sifatku ini, memang, karena ini bukan diriku yang sebenarnya. Sisi gelap. Semua orang punya itu, ‘kan? “What makes you want to have me? Even though I'm not the best for you? Even though I've made you destroyed?” But you choose a different path Sebuah pertanyaan retoris, untuk kesekian kalinya meluncur dari mulutku begitu saja. Katakan bahwa aku terlalu keras kepala untuk meninggalkannya, karena aku tidak mau Kagami-kun sedih. Sama sedihnya ketika ia menceritakan masa lalunya yang kelam—memang dia tidak menunjukkan itu namun aku tahu di lubuk hatinya pasti ada luka terdalam, perasaan hancur, you name it. Mengecewakan memang, karena aku memang bukan yang terbaik untuk Kagami-kun. Yang dia butuhkan adalah orang yang selalu menjaga perasaannya, agar tidak melenceng jauh dan membuatnya jatuh. “Four words; because I love you.”Why couldn’t I tell you a single thing?
“You destroyed me, but just hearing your voice makes me alright.”Every day and every night, my feelings grew stronger Even though I knew all the words I wanted to say to you You’ll never hear them anymore
…andai aku bisa mengatakan hal yang sama, Kagami-kun. Aku hanya bisa memberikan tatapan nanar, seolah aku telah mengucurkan air mata sedari tadi tanpa henti. Seluruh tubuhku melemah, dan aku tidak sedang sakit, ngomong-ngomong. Untuk sebuah pengakuan kesalahan terbesar dalam urusan cinta, aku harus mengerahkan semua tenagaku—hebat, eh? Tidak mudah untuk meninggalkan seseorang yang sebenarnya masih kau sayangi hanya karena ingin menjaga perasaannya saja. Aku pun membiarkan surai coklatku tergerai, berkibar karena angin yang bertiup. Juga membiarkan kedua manik amberku dikelilingi oleh warna kemerahan yang mendominasi. “So tell me, how much you love me?” We can’t go back...
“’How much’ is not important, my dear.”Back then...
“For me, that’s important.” We can’t go back...
“For me, it's not. but I can't tell you how much I love you because I...”Back then...
“...you don’t love me, do you?” Pada akhirnya, keegoisan memenangkan segalanya. Aku hampir tak mampu berbicara apapun lagi. Bukan karena tenggorokanku mendadak kering ataupun kulit bibirku mengelupas. Karena aku sudah menanyakan hal yang paling menyesakkan pada Kagami-kun. Menyesakkan untukku juga, tentunya. Aku pun tak peduli meskipun perdebatan ini pada akhirnya berbuntut panjang atau apa. Tetapi yang jelas, yang aku inginkan saat ini adalah rasa tenang Kagami-kun. Bukan perasaan terikat karena harus mencintaiku sepenuhnya. Meskipun aku yang terikat terlebih dahulu—Reiji-niisan juga mengetahui ini, kontak batin antar saudara kembar—dan kemudian mengikat pada yang lainnya juga. Jujur, aku memang tidak menginginkan hal ini terjadi begitu saja. Begitu keras kepalanya aku. Still... Even if you’ve left my side
“...I really don't want this to happen between us.” I’ll just be wishing for your eternal happiness
Aku kangen Kagami Saito yang dulu. Aku kangen Kagami Saito berwajah polos, ekspresi yang kini makin menyesakkan hatiku juga. Aku kangen Kagami Saito yang tidak terikat oleh satu perasaan... Yang dinamakan cinta. “I don’t want it too.”No matter how lonely it makes me feel Even if it hurts...
...sayonara. ———— Rating: G (General) Genre: Romance/Drama Disclaimer: Raiza Sakata & Reiji Sakata milik saya, Kagami Saito milik Mabel, Nathaniel Winterfield milik Mijuh. Percakapan dari rolechat di Plurk (roflmao). Lirik lagu Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou milik Dong Bang Shin Ki. Judul lagu The Way You Are milik Dong Bang Shin Ki juga buat judul fanficnya. Agak gak nyambung emang, huehehehe. Tapi seriusan loh, waktu nulis fanfic ini sekalian dengerin lagu Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou itu trus liat MVnya yang—anjir, ini dramanya Kagami sama Raiza banget (roflmao). Ahu.. Cuma pengen makasih sama Tuhan yang udah ngasih kesempatan biar bikin fanfic kek gini, walaupun jadinya geje parah. Trus buat Mabel juga yang tadi nyemangatin di Plurk—beruntunglah dikau, nak, untung sama saya belom di-close (roflmao).Labels: Kagami/Raiza, RPF: Ryokubita
|

|
Tagboard
Tagboard code here. Maximum width @ 750px.
|
|